12/10/2005

My Love Story (part III)

 

Sudah cukup lama kami berkeliling tetapi aq tidak mendapatkan tempat yang trpat untuk menanyakan keputusannya. di mobil tidak mungkin, aq malu juga dengan adikku, lagian masa pembicaraan seperti ini harus didengar oleh orang lain…. aq pun mendapat ide……. aq menurunkan adikku di sebuah warnet dan memintanya menunggu di situ sambil bermain internet hingga aq kembali menjemputnya. adikku yang pengertian ini setuju dan memberiku kesempatan.
Akhirnya tinggal aq berdua yang berada di mobil. Aq memutar mobil dan menjalankannya kembali ke suatu tempat untuk berhenti. karena aq tidak mau membicarakannya sambil menyetir. Aq harus berhenti….. Aq menatap matanya, dan dengan penuh perasaan aq kembali menanyakan kesediaanya untuk menjadi pacarku, yang selama ini hanya ia jawab dengan “tidak tahu..”. “Mell apakah kau mau menjadi pacarku?” lama ia terdiam, lalu menatapku kembali. Bibir mungilnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, da……”tidak tahu……. aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa… tolong jangan paksa saya….” jawabnya. Aq terdiam dan berpaling, “ini akhirnya, setelah ini aq akan benar-benar menjauhimu. Jawabanmu hari ini aq anggap sebagai “tidak” yang terakhir.”
Dengan hati yang sangat kecewa, aku kembali menjalankan mobil dan menjemput adikku yang telah lama menunggu. Dadaku terasa sesak dan serasa ingin berteriak. Sesekali aq lepas kontrol sampai mengemudi ugal-ugalan. Aq merasa ingin segera mengakhiri kebersamaan yang tidak berarti ini dan mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan hingga tiba di depan lorong rumah Mell, suasana hening memenuhi mobil, semua diam seribu bahasa. Hanya kalimat perpisahan yang terucap, mengakhiri kebersamaan itu.
Dalam perjalanan pulang, hatiku benar-benar terpukul, padahal aq sudah sangat yakin bahwa hari itu Mell pasti menerimaku. semua tidak seperti yang aq harapkan hingga Hand Phone ku berbunyi…….. Mell calling……. “Huh untuk apa lagi dia menelponku?” ketusku. namun aq mencoba tenang, seolah aq baik2 aja dan menjawab teleponnya. “halo ada apa?” “Hai…. kamu sudah sampai dimana?.” “oh, aq masih di perjalanan. Bentar lagi sapai kok.” “maafkan jawabanku tadi ya…” huh&%$#&%$ aq pikir, enak saja habis gituin aq mau langsung minta maaf. tapi aq coba tenang dan menjawab “oh yang tadi? sudahlah ga apa-apa kok” “ jadi kamu maafin aq?” “ya iya lah… masa aq mau dendam” “jadi kalau begitu kita BACKSTREET………” mendengar kata-katanya aq kaget “hah…..!!! maksudmu, kamu mau jadi pacarku?!?!?” “mmm…….. iya…. tapi kita BACKSTREET, aq ga mau ketahuan nyokap.”
Kekecewaanku sirna seketika berganti hati yang berbunga-bunga, apapun persyaratannya, yang penting Mell telah menerima cintaku. Dan sejak hari itu, kami melalui masa-masa yang indah dan menyenangkan bersama. Tapi masalahpun kerap mewarnai hubungan kami, namun dengn sedikit kesabaran, kami dapat mengatasix bersama. tak sedikit kegilaan yang kami lakukan bersama, hingga memperkuat rasa cintaku kepadanya.
Setelah resmi kami berpacaran, sesekali kami bertemu dirumahnya secara diam-diam. Kami melakukan itu saat nyokap Mell sedang tidak ada dirumah. Kami memanfaatkan waktu itu untuk lebih mengenal, saling memahami lebih jauh lagi. Aq mencoba mengenalnya tidak dari sisi dia sendiri, tetapi aq juga coba mengenalnya dari pergaulannya, yaitu teman-temannya. Mell tidak sungkan bahkan merasa bangga saat memperkenalkan aq pada teman-temannya. Tentu saja hal itu membuat aq merasa sanggat bangga. Karena, “Siapalah aq ini???” pikirku dalam hati. Terkadang aku juga berpikir, Mell terlalu cantik buatku, mungkin orang-orang tak percaya kalau ia adalah pacarku. Masalah “ketampanan” aq benar-benar berada dibawah standar. (tapi yang jelas aq tetap mengucap syukur kepada Tuhan untuk wajah dan semua yang Ia titipkan untukku.) =) Thank’s Lord.
Aq pun semakin akrab dengan teman-teman Mell. Dan tak jarang teman-teman Mell membantu kami agar bisa keluar bersama. Suatu hari aku penasaran dengan pembicaraan Mell bersama temannya. Mereka menyebutkan angka-angka aneh dalam pembicaraan mereka. Aq yang penasaran terus menyimak dan akhirnya bertanya karena semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka. “hei…hei…hei… apa sih yang kalian bicarakan?” tanyaku. Mereka tertawa da salah satu teman Mell membisikkan kepadaku “82 itu adalah pacar Vina (teman Mell) sedangkan 41 itu kamu….”. Katanya mereka menggunakan istilah itu saat membicarakan kami di kantor tempat mereka bekerja. Aq pun hanya tersipu malu, karena ternyata sejak tadi mereka membicarakan aq =P. Sejak saat itulah istilah “empat satu” melekat kepadaku. (fourty_one)
Banyak kejadian-kejadian yang tak terlupakan buatku, salah satunya adalah FIRST KISS……… Suatu waktu aq aq beranikan diri untuk menciumnya, tetapi Mell menghindar dan melarangku. Aq tidak memaksanya dan berusaha mengembalikan suasana romantis yang sudah aq rusak itu. Hingga suatu saat, tepatnya di rumah Mell, ia mengijinkan aq memberikannya FIRST KISS di kening. Begitu pula dengan Mell. FIRST KISS darinya diberikannya kepadaku dirumahnya sebulan setelahnya. Padahal kami telah cukup lam berpacaran, tapi ia belum pernah memberi aku sebuah ciuman. Waktu itu kami sedang duduk di tangga rumahnya, dan tiba-tiba ditengah pembicaraan ia mencium aq. Aq kaget dan bahagia bukan main Aq hanya bisa terdiam menatapnya seolah tak percaya kalau baru saja Mell mencium aq. Dan tiba-tiba ia berkata “itu karena aq sayang kamu.” Mendengar pengakuannya yang tulus itu , aq sangat bahagia dan membalasnya dengan sebuah kecupan di kening dan pipi....to be continued...

The comments are closed.