12/10/2005
My Love Story (part I)
Untuk ukuran co, aq termasuk co lugu.. Gimana ngga’ hingga SMU, deket ma ce aja paling takut, terkadang sampai gemetaran. Trus, kenal pacaran pas waktu kls 1 SMU itupun masih cinta monyet. Adegan paling romantis selama pacaran aja, Cuma pegangan tangan. Wkt itu jantungku serasa mau copot. tp kalo diingat, jadi geli seendiri.
Hingga lulus SMU, beberapa kali aq ganti pacar, otomatis usianya ga ada yang awet. Pacar terakhir aq di SMU aq anggap pacar paling cantik yang aq dapat hingga saat itu, dia masuk dalam gank 5 Bidadari, 5 ce paling cakep di sekolah aq wkt itu. Yah lumayanlah di sekolah jadi terkenal karena bisa menaklukkan (monster kali ye ditaklukkan) salah satu bidadari itu. Hubungan kami biasa-biasa aja tapi terus berlanjut hingga lulus sekolah, bahkan hingga aq kuliah.
Hampir setahun aq masuk univ neg, Tapi ternyata aku bosan juga ama ni ce, sama seperti yang sebelumnya, usia pacaran kami pun ga bertahan lama. Mau nyari gantinya di kampus……males….. pada mati lampu semua sih. Jadi aq rencanain untuk nge-jomblo dulu sampai aq puas nikmatin yang namanya bebas.
Tapi rencana nge-jomblo ini urung seketika. Seperti pepatah perjuangan, gugur satu tumbuh seribu. Benar… Di gereja tempat aq beribadah, ce yang aq naksir sejak masih kecil ternyata sekarang udah tumbuh menjadi gadis yang saaaangat cantik sebut saja namanya “Mell”. Ia warga keturunan yang membuat aq klepek-klepek jatuh cinta padanya. Padahal sebenarnya aq paling benci melihat orang sesamanya dia.
Tapi yang ini lain, tiap kali aq bertemu, jantung dan dadaku terasa sesak. Padahal aq sama sekali belum pernah berbicara dengannya. Hari demi hari, minggu demi minggu, aq terus memikirkan betapa cantiknya dia. Bahkan kehadirannya membuat aq dengan mudah melupakan pacarku yang terakhir.
Aq memutuskan akan beranikan diri untuk mendekatinya…. Tapi bagaimana caranya????? =( ternyata beberapa pengalaman belum cukup menguatkan mentalku untuk mendekatinya. Akhirnya aq mengurungkan niat dan hanya mengaguminya dari kejauhan.
Ternyata Tuhan membuka jalan buat saya untuk bisa mendekati Mell. Seperti minggu-minggu biasanya, pemuda gereja mengadakan ibadah tiap hari sabtu. Waktu itu tanggal 23 maret 02, aq berencana untuk ikut beribadah, tapi aq ga tau alamat rumah tempat diadakannya. Makanya aq minjem mobil bokap buat jemput teman di pastory yang tau alamat. Pas waktu aq mau turun dari mobil, dadaku terasa sesak. Benar,…gadis pujaanku, “Mell”. Tiba2 ia muncul di depan lorong hendak pulang setelah selesai latihan rebana. Aq hanya terdiam dan berkata dalam hati, “cantiknya gadis ini…. Aq ingin menjadi pacarnya, aq harus melakukan sesuatu.!!” Tiba-tiba terlintas ide untuk mengantarnya, tapi aq jg harus pergi beribadah, apalagi aq udah janji mau menjemput teman di pastory. Duh gimana dong…. Tapi, TING….!!! Ide baru pun muncul. Karena gereja berada dalam kompleks yang cukup jauh dari jalan raya, aq coba menawari untuk mengantarnya sampai ke depan kompleks aja, mengingat sebenarnya aq masih ada tujuan lain. Tanpa basa basi lagi aq pun menawarinya, dan salah satu temannya mengiyakan tawaranku .Mereka bertiga pun masuk ke mobil bokap yang aq pinjam. Inilah awalnya aq bisa mendekatinya. Dalam perjalanan aq memulai percakapan basa basi yang garing dan klasik. Dalam hati aq mengatakan, “paling ngga’ aq harus mendapatkan no telponnya..” akhirnya aq beranikan diri untuk berkata, “Mell skali2 aq boleh dong nelfon kamu?” pertanyaan dengan jantung yang berbebar ini dirusak oleh temannya dengan nyeletuk dan menjawab, “Iya boleh saja, kenapa ngga’, iya kan Mell??” Rasa sebal sudah sampai ke ubun-ubunku, kenapa pertanyaanku ini harus si usil itu yang jawab!!!! Uuuuhhh… tapi, selang beberapa detik kemudian terdengar suara yang halus dan manja berkata, “memangnya kamu tau nomer telfonku??” Sekejap hatiku berbunga- bunga, dan benar itu suara Mell. Spontan aja aq menjawab dengan nada bercanda, “Makanya kalo aq boleh nelfon, skalian dong aq minta nomer telfon kamu….=).” “XX XX XX” ia menyebutkan 6 digit nomer dan dengan cepat aq menghafalkannya sambil menyimpannya ke Hand Phone-ku. Ternyata kebahagiaan ini tidak hanya sampai situ, iapun balik bertanya, “kalau nomer hand Phone-mu??” Perlahan aq menyebutkan satu persatu nomer-ku dan Mell pun mencatatnya. Tak terasa kamipun tiba di depan kompleks yang menjadi tanda bahwa sudah waktunya kami berpisah. Dengan tatapan yang lembut ia berkata “makasih yaa…” “sama-sama” balasku. Akupun kembali menjemput teman dan bersama-sama beribadah dengan hati yang berbunga-bunga. Kadang terdengar pertanyaan, “Kamu kok kelihatan senang sekali?? Cerita dong!!” Aq hanya tersenyum dan menyimpannya sendiri.
Sekitar pukul 9.30 malam aq udah tiba di rumah setelah selesai ibadah. Aq teringat nomer telfon yang diberikan sore tadi. Segala rasa bercampur aduk, aq harus menelfon atau ngga’. Tapi akhirnya aq mutusin untuk menelfon.
Ini pertama kalinya aq nelfon dia. Perasaan yang tak tergambarkan memenuhi tubuhku, saat dari seberang sana terdengar suara lembut dan manja yang pernah aq dengar. Kami pun bercerita, saling kenal, bertanya ini dan itu, bahkan sesekali kami bercanda. Kami ngobrol cukup lama, dengan bahan yang serasa tidak ada habisnya. Aq pun enggan mengakhiri pembicaraan yang menyenangkan itu, tapi masih banyak yang harus aq dan dia selesaikan dan menjadi alas an untuk kami menyudahi pembicaraan.
Semalaman aq terus mengingat percakapan kami, ternyata Mell jauh dari apa yang aq bayangkan. Mell bukanlah orang yang sombong seperti yang aq duga. Dia ramah, sopan bahkan terkadang lucu….=P. to be continued......
11:30 Posted in Love Story | Permalink | Comments (0) | Email this


The comments are closed.